Rabu, 22 Juni 2011

semua harus kongkret!

yap, itulah kata temen gw pas lagi ngobrol lewat BBM. Emang bukan BB gw tapi BB temen gw, hahaha..
semua harus kongkret kali mon sekarang
Walaupun bukan pas lagi momen serius obrolan itu terjadi tapi cukup menohok relung jiwa gw juga. Sekarang di usia gw yang hampir 21 tahun klo dipikir gw dah ngapain aja ya? Bermimpi? Bercita-cita? Berharap? Apakah semua kata kerja itu cukup? Menurut gw pribadi kayaknya nga deh. Kalimat "talk less do more" dah harus bener-bener diaplikasikan sekarang ini. Seharusnya gw dah bergerak bukan lagi dalam tataran konsep tapi dah mulai ke realisasi. Ini dia yang susah! Klo cuman mikir gw juga bisa nah geraknya itu yang susah beeeettttt....

Dan hal paling mudah adalah dengan membenahi hidup gw sendiri. Sekarang sudah cukup dewasa rasanya gw untuk mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan menambah wawasan dan memperbanyak tindakan yang berguna untuk kemashalatan bangsa, negara dan dunia.

Aminnnnn..........................

Selasa, 21 Juni 2011

kata mereka

Membayangkan SMA TN yang gratis kembali sungguh luar biasa. Tetapi saya juga membayangkan proses transisi yang akan terjadi dari sistem berbayar ke sistem berbeasiswa penuh. Mungkin akan sama sulitnya dengan transisi dari sistem berbeasiswa penuh ke sistem berbayar jika Institusi tidak siap menghadapi itu. Mungkin TN 11, 12, 13 dan 14 menyaksikan bagaimana proses transisi terjadi.

Namun ada hal yang perlu disadari bahwa pendidikan itu system yang dinamis. Adek-adek kita mungkin merasa dalam tekanan ketika mendengar bahwa “TN dulu tuh hebat”, “TN dulu itu juara”, atau “TN dulu itu bukan hanya lulus 100% tetapi juga dengan rata-rata tertinggi”. Perlu kita sadari bersama bahwa setiap angkatan memiliki jaman dan tantangan yang berbeda. Adek-adek kita belum tentu mereka tidak berpotensi menjadi juara. Mungkin permasalahannya hanya ada pada mental juara. Jadi mari melihat sesuatu secara optimis.

Di tengah hiruk-pikuk obrolan panjang kita, saya ingin paling tidak ada hal kecil yang bisa dilakukan secara konkret oleh para alumni termasuk saya yang sedang tidak berada di tanah air. Seperti saya sebutkan sebelumnya bahwa mari kita memberikan motivasi, berbagi cerita, pengalaman kegagalan, cerita inspiratif, atau hal-hal yang sekiranya bisa membangkitkan semangat adek-adek kita.

Kita berbicara dengan tone yang positif, bukan menghakimi, bukan menasehati, bukan dimulai dengan kata-kata “Kalau dulu waktu jaman kami itu..”. Biarkan adek-adek kita merasa mereka berada dalam ‘TN’ yang sama dengan abang dan kakaknya. Kita ceritakan bahwa hal-hal terbaik yang kita dapatkan di TN adalah modal di masa depan. Biarlah adek-adek kita memiliki keyakinan itu dulu.

Oleh karenanya, saya memiliki ide kecil untuk sekedar membuat video testimonial dari abang dan kakak untuk adek-adek kita. Bisa berisi apa saja asal dengan tone yang positif. Seperti saya ceritakan bahwa adek-adek lebih sering menghabiskan malam minggu di depan laptop. Akan sangat menarik jika video testimonial dari abang dan kakak mereka tonton di kesunyian malam minggu. :)

Saya mengajak abang dan kakak yang memiliki waktu luang, memiliki kesempatan untuk sekedar berbagi cerita, misal direkam secara pribadi dan ada satu-dua alumni yang bersedia mengumpulkan dan melakukan proses editing. Saya membayangkan adek-adek kita melihat video testimonial dari abangnya yang dinas di papua, kuliah di amerika, kerja di eropa, tugas belajar di jepang, menjadi pejabat pubik di Aceh, pengusaha di daerah yang bercerita tentang atu hal yang sama. Bukankah itu menarik? Dan kita punya momen baik bulan depan bukan?

Mari kita optimis dan memulai dari hal yang kecil. Hal yang bisa dilakukan oleh alumni di mana saja. Tidak harus dengan kehadiran fisik. Walau ini mungkin hanya ide yang sangat kecil dan sederhana namun juga tidak akan terrealisasikan tanpa bantuan alumni sekalian.

Sekian.

Dimas Pramudya Kurniawan
01.3243

Ketika diri dilatih untuk dewasa melebihi usia.
Ketika kebersamaan pun hadir di ruang makan.
Ketika berkawan tidak cukup hanya sekedar mengenal nama.
Ketika disiplin diperkenalkan dalam bentuk yang berbeda-beda.
Ketika anak Jendral TNI tak ada bedanya dengan anak buruh tani.
Ketika cara menghormati guru sama dengan cara menghormati tukang sapu.
Ketika logika dipaksa mencerna makna bela negara hingga hukum termodinamika.
Ketika menyadari bahwa tidak ada yang lebih berarti selain menjadi diri sendiri.

Ketika senantiasa diyakinkan bahwa cita-cita dan mimpi itu ada,
tidak lain untuk diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata.
 source: facebook
 

semua "For IMG"

yah, beginilah suasana pemilu IMG yang sedang berlangsung. Semua kampanye bisa bilang si A For IMG, si A For IMG, si A For IMG dan si A For IMG.

Klo kata gw:
Semangat ya teman!
 
Menurut gw pribadi Pemilu merupakan ajang untuk memilih siapa yang siap dan bersedia memberikan yang terbaik bukan memilih siapa yang terbaik. Ketua itu bukanlah tujuan tapi sarana untuk membawa perubahan ke arah yang baik. 

Baik dan buruknya suatu organisasi cuman bisa dilihat dari sejauh mana kontribusi organisasi tersebut terhadap lingkungan sekitar.

Kuatnya organisasi dapat diamati dari seberapa jauh nilai dan tradisi terjaga dari waktu ke waktu.

Dan yang terakhir:
semua For IMG!

sudah saatnya kita melupakan ke apatisan terhadap lingkungan sekitar sebagai salah satu tanggung jawab sosial sebagai mahasiswa.

Rabu, 15 Juni 2011

menjual idealisme demi nilai(?)

Yup idealisme yang gw maksud sekarang adalah kejujuran.

Kejujuran yang klo gw bilang sekarang ini tergolong hal langka seperti BBM yang nga dapet subsidi dari pemerintah. Kenapa nga dapet subsidi dari pemerintah? Karena emang yang gw liat juga pemerintah seperti membiarkan ketidakjujuran berada walaupun ada gembar-gembor untuk melawannya(ini berhubungan banget sama korupsi gan!). Sebenarnya gw mau coba ikutan berpendapat tentang kasus yang berhubungan dengan kejujuran yang belakangan ini lagi heboh. Yaitu, kasus contek-mencontek yang terjadi di Surabaya pada salah satu sekolah dasar di sana. Jadi ada orang tua yang melaporkan kalo anaknya diminta untuk mencontek dengan jawaban yang dibagikan oleh gurunya dan sesampainya di rumah dilaporkannya lah hal tersebut ke orang tuanya. Saat orang tuanya melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwenang bukan sambutan yang baik tapi malah amukan massa yang diterima. konyol nga sih? Inilah dilematika pendidikan di Indonesia, mungkin.

Sebenarnya hal tersebut, menurut gw, nga cuman terjadi di salah satu sekolah dasar pada salah satu kota di Indonesia tapi terjadi secara massive di hampir seluruh bagian tanah air kita tercinta ini. Gw juga mau membuat pengakuan kalo gw pernah jadi salah satunya, yang nyontek dan ngasih contekan. Gw nga mau munafik. Dan tentang gw pribadi akan dibahas di akhir dari tulisan ini :p

Mungkin yang jadi pertanyaan adalah kenapa mencontek salah? Kenapa mencontek nga boleh? Jujur gw bukan ahlinya jadi gw jawab menurut gw(padahal pertanyaannya gw sendiri yang buat, LOL!). Jawabannya adalah eng ing eng...

Penilaian tersebut tidak bersifat kongkrit karena tidak sesuai dengan kapabilitas asli dari yang akan dinilai. Dalam susunan kata yang lebih indah, kita berbohong dengan diri kita sendiri dan nilai yang ada membohongi orang lain sehingga terjadi siklus/rantai pembodohan.

kalau ditarik garis yang lebih jauh lagi berarti kita membiarkan diri kita tidak memiliki integritas dan hidup dalam bayangan sebagai seorang penakut yang takut untuk dinilai. Lebih jauh lagi, kita berdiri tegak melawan pemerintah. Kenapa pemerintah? Karena sekarang ini mau nga mau harus diakuin klo pemerintah juga lagi bergerak melawan korupsi dan cikal bakal dari korupsi adalah contek-mencontek ini. Yah, walaupun di sisi lainnya pemerintah juga seperti cuek terhadap permesalahan yang sepertinya sepele ini.

Kesimpulannya?
Gw sepakat kalau mencontek itu buruk dan salah!

Sekarang cerita tentang diri gw dalam hal mencontek nih. Klo boleh jujur ya. Pas gw SMA sama sekali gw nga pernah mencontek. Maklumlah, gw dididik oelh manusia-manusia berkualitas dengan sistem terbaik di Indonesia. SMA apalagi coba kalo bukan SMA Taruna Nusantara yang bisa kayak gini. Masalahnya adalah setelah gw keluar dari sana. Pas SMA inget banget gw ada yang namanya kode kehormatan yang nomor 4 nya berbunyi dilarang mencontek. Ditambah lagi klo ada yang ketahuan nyontek langsung dikeluarin. Sekarang? boro-boro. yang nyontek aja segambreng alias rame banget. Dan gw mengaku salah setelah
gw membuat pengakuan pada diri gw sendiri tentang esensi mahasiswa yang memiliki tiga tanggung jawab. Salah satu tanggung jawabnya adalah tanggung jawab moral yang berarti memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan salah.

Dan akhirnya gw berani mengatakan kalo gw nga akan mencontek lagi!

end.